Loading...

Segelas Air Minummu Bos! - Kisah Motivasi

SEGELAS AIR MINUMMU BOS! - Sebuah Kisah Inspiratif bagi kita bersama

Akhir-akhir ini, terutama pasca Gempa Tsunami Palu, setiap kali saya menghadiri acara apapun saya selalu menjaga diri saya untuk membuka sajian yang disajikan oleh panitia atau oleh yang mengundang.

Segelas Air Minummu Bos! - Kisah Motivasi

Sekiranya disuguhi makanan yang sekiranya menurut ukuran saya tidak akan bisa saya habiskan maka saya memilih tidak mencicipinya sama sekali. Karena rawan untuk saya sisakan dan parahnya orang lain juga tidak akan mau menghabiskan sisa makanan saya.

Kesadaran ini bermula dari sindiran telah saudara saya pelaku bisnis laundry dari Makassar (colek Amran Londria, kulupai namanya ) saat hadiri acara Asosiasi Laundry di Jakarta. Waktu saya disuguhi Nasi Kotak dengan baluran Mayonais diatasnya, makanan kota yang tidak cocok untuk saya yang lidah kampungan ini. Karena dalih menghargai panitia dan takut lapar, maka saya cicipilah makanan itu ala kadarnya. Lalu saya tutup lagi, beberapa menit kemudia datanglah salah satu pengurus beliau ini (lupa nama dan akun FB-nya), langsung menyantap sisa makanan saya tersebut, dan terus berkomentar menyindir saya dengan keras. Jujur saya malu dengan itu, apalagi sindirannya bergaya Makassar lengkap dengan intonasi Makassar juga, saya yang lama bermukim di Jogja ini langsung baper jadinya.

Cerita kemudian berlanjut, sampai akhirnya saya terlibat dengan teman-teman Komunitas Nasi Jumat (SiJum) Sulsel binaan Ustadz Andre Raditya dibantu Asbar Andaya dan Oga Suryanti pada aksi support pengungsi gempa Palu yang eksodus ke Makassar kala itu. Disana saya melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana saudara kita para eksodus yang tiba dengan Pesawat Hercules itu menampakkan wajah berbinar gembira begitu tim kami menyodorkan gelas-gelas air mineral.

Mendapatkan segelas air mineral bagi mereka kala, adalah sebuah berkah paling indah. Layaknya orang yang baru saja dibebaskan dari hutang ribanya, layaknya orang yang lulus ujian PNS. Iya, mereka mendapatkan kelegaan yang luar biasa, rindunya akan seteguk air terobati.

Wajar, karena sudah 4 hari mereka tidak mendapatkan air sama sekali. Jangankan untuk mandi, untuk sekedar basahi bibir saja mereka gak mendapatkannya. 4 hari mereka duduk di tengah panas dan dinginnya landasan bandara Palu datang menjemput mereka.

Saat awal kami sodorkan air mineral itu, mereka enggan menerimanya. Disangkanya, air itu harus dibeli. Maklum selama mereka di Palu, sebotol air mineral ukuran sedang harus dibayar dengan lima lembar uang lima ribuan. Sementara segalon air mineral harus ditebus dengan dua lembar uang seratus ribuan.

Terenyuh hati ini melihat mereka menghabiskan air mineral dalam gelas itu hingga tetes terakhir.

Mulai saat itulah, saya suka menegur dan marah jika ada orang sisakan air dalam gelas atau botol minumnya. Saya cenderung sering mengambil alih dan meminumnya. Agar tidak mubazzir tentunya.

Untukmu sahabatku, tolonglah jika ada makanan atau minuman disajikan untukmu tolaklah jika kami tak sanggup habiskan. Atau jangan buka dan cicipi sekalian, jika dibolehkan lebih baik kamu bawa saja makanan itu untuk kau berikan kepada yang lebih membutuhkan. Karena itu jauh lebih bermanfaat.

Allah SWT berfirman:

اِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَانُوْۤا اِخْوَانَ الشَّيٰطِيْنِ ؕ وَكَانَ الشَّيْطٰنُ لِرَبِّهٖ كَفُوْرًا

"Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya."
(QS. Al-Isra': Ayat 27)

Ijinkan saya sapa saudara saya para relawan eksodus itu.
Loading...