Prospek Bisnis - Tekanan dan beban hidup akan membuat 2 kemungkinan bagi seseorang. Membuatnya hancur atau menempanya menjadi seorang yang kuat tekadnya untuk sukses. Dibawah ini ada sebuah kisah inspiratif - Ditinggal Orangtua Lalu Rumah Disita, Mahasiswa Ini Bangkit Jadi Pengusaha Beromzet Puluhan Juta meskipun tanpa keluarga. Diusir, dihina dan dilecehkan sudah menjadi santapannya sehari-hari. Sampai akhirnya dia sukses menjadi seorang pengusaha sukses. Hebat sekali.

Kisah Inspiratif - Ditinggal Orangtua Lalu Rumah Disita, Mahasiswa Ini Bangkit Jadi Pengusaha Beromzet Puluhan Juta

Saat masih di bangku SMA, Sidik Amin Mubarok (22) sudah menghadapi masalah-masalah berat mulai dari nyaris putus sekolah, ibunya sudah tiada, ayahnya pergi entah ke mana, hingga tempat tinggal di sita.

"Ayah dan nenek tidak mengizinkan saya sekolah, dan menyuruh bekerja. Namun saya nekat daftar sekolah tanpa uang sepeser pun," ujar pria yang akrab disapa Sam saat ditemui Tribun Jabar di Pondok Fauzan, Jatinangor, Jumat (1/12/2017).

Saat ditemui Tribun Jabar, Sam tengah berkumpul dengan dua timnya.
Di dalam ruangannya, Sam menceritakan masa lalu yang membuat hidupnya mandiri.

"Saat SMP, saya bukan anak yang suka belajar. Namun demi mendapatkan beasiswa, saya bisa ranking satu selama SMA," kata Sam sambil tersenyum.

Sidik Amin Mubarok mengingat kisahnya yang mengharukan. Setiap hari ia menjual gorengan di sekolah.
Kabar ini sampai ke telinga ayahnya. Ia ditantang menjual makanan yang dibuat ibu tirinya.

"Uangnya digunakan tidak benar oleh ayah. Setelah bercerai dengan ibu tiri, ayah pergi entah ke mana," ujarnya.

Selang beberapa waktu setelah kepergian ayahnya, listrik di rumah neneknya padam. Kerumunan orang berkumpul di depan rumah tersebut.

Ternyata itu karena rumahnya disita, Sam pun harus mencari tempat tinggal lain.
Kala menumpang di masjid, ia diusir seketika. Namun ia tetap bersyukur dikelilingi teman yang peduli dan baik padanya.

Tentu saja, ada pula orang yang mencibir Sam.

"Saya beruntung punya teman yang mau menolong, sampai saya bisa merintis bisnis," kata Sidik Amin Mubarok.

Wajahnya sumringah, sesekali ia tertawa saat mengingat waktu pertama kali membuat kripik singkong.

Saat itu, teman satu yayasannya meminta Sam dibuatkan makanan untuk acara sekolahnya.
Awalnya Sam ragu tetapi ia memberanikan diri meskipun beberapa kali gagal menggoreng kripik singkong.
Dari 20 kilogram singkong hanya berhasil diolah menjadi 44 bungkus kripik.

"Masih ala kadarnya, dibungkus plastik sederhana. Ternyata respons mereka bagus. Setelah itu saya buat lagi 1.000 bungkus," ujarnya.

Lama-kelamaan membuahkan hasil. Setelah mendapatkan masukan dari konsumennya, ia menyempurnakan produknya.

Sorodot Gaplok (Sorgap), itulah merek yang dibuat Sam untuk produknya.
Olahan singkong berasa pedas ini, berhasil ia racik sendiri.

Sidik Amin Mubarok memasarkan produk ini dari mulut ke mulut, menjual langsung ke konsumen, dan media sosial.

Setelah lolos mendapatkan beasiswa di Universitas Padjadjaran (Unpad), mahasiswa Ilmu Administrasi Bisnis ini kerap menjajakan dagangannya di kampus.

Kotak besar berisi puluhan bungkus kripik singkong, dipanggulnya di bahu. Setiap pagi, dari asrama Unpad ia kerap dicibir oleh sesama mahasiswa yang berpapasan di jalan.

Pria asal Ciamis ini, bahkan dilempari barang dagangannya sendiri saat menawarkan ke seniornya.
"Apaan nih ko bungkusnya kaya gini," ucap Sam menirukan suara seniornya.

"Masih ala kadarnya, dibungkus plastik sederhana. Ternyata respons mereka bagus. Setelah itu saya buat lagi 1.000 bungkus," ujarnya.

Lama-kelamaan membuahkan hasil. Setelah mendapatkan masukan dari konsumennya, ia menyempurnakan produknya.
Sidik Amin Mubarok pantang menyerah. Ia semakin bersemangat memperbaiki kemasannya.
Kini, produknya sudah dipasarkan di seluruh nusantara. Tak hanya Indonesia, pesanan dari Malaysia pun kerap dilayaninya.

"Saya memberdayakan sanak saudara di Ciamis untuk produki dan saya sendiri yang berkomunikasi dengan pelanggan," jelasnya.

Sejak awal 2017, permintaan pasar terus meningkat. Dalam sebulan, Sorgap memproduksi 5.000 bungkus.

Mulai 2018, Sorgap akan menambah jumlah produksi dua kali lipat.

Sam menunjukkan data di ponselnya. Ia menyatakan, permintaan terbanyak berada di wilayah Bandung Raya. Dalam sebulan, bisnisnya mampu mendapatkan omzet antara Rp 30 hingga lebih dari Rp 50 juta. Produknya ini, khusus dijual oleh reseller yang dipasarkan di setiap kampus.

"Awalnya yang saya kejar dari bisnis ini untuk bertahan hidup. Saat ini, saya ingin memberdayakan anak muda untuk hidup mandiri," ujar Sidik Amin Mubarok.
Menurut Sam, hingga saat ini reseller Sorgap sudah lebih dari 3.000 orang.

Demikianlah kisah sukses Sidik Amin Mubarok Pengusaha muda sukses Keripik Sorodot Gaplok yang telah mandiri dan mampu membuka lapangan kerja bagi yang lain. Mampu bangkit dari keterpurukan dan mandiri. Semoga artikel ini dapat bermanfaat dan menjadi inspirasi dan motivasi bagi sahabat pembaca.

Sumber : tribunjabar.co.id