INFO BISNIS | WISATA | MOTIVASI | KREATIFITAS

Studi Kasus Indomie VS Mie Sedaap

Kasus Indomie vs Mie Sedaap
Indomie vs Mie Sedaap
Sebuah produk dikatakan berhasil bila brand image produk tersebut mampu mewakili semua merk yang ada dan menjadi nama pengganti bagi semua Merk. Masih ingat bagaimana banyak orang menyebut nama Aqua untuk penyebutan semua jenis minuman air mineral? Begitupun dengan Indomie yang banyak diucapkan orang untuk mewakili Mie Instan. Tapi karena merasa mapan Indomie lengah dan mulai didesak oleh merk Mie sedaap. Mari kita cermati Studi kasus Indomie VS Mie Sedaap di bawah ini. Kenapa Mie Sedaap mampu bersaing dengan Indomie dibanding merk-merk lainnya? Rasanya ini menarik untuk kita simak. Sahabat setia Fortune 99 mari kita belajar dari kasus Indomie versus Mie Sedaap berikut ini.

Berada di posisi market leader tak seharusnya membuat kita lengah dan merasa tak tertandingi. Jika lengah berinovasi, jangan kaget jika ada pesaing yang siap merebut pangsa pasar. Tak percaya? Silakan mengingat persaingan ketat dua merek mie instan ternama di negeri ini, yaitu Indomie vs Mie Sedap.

Indomie, mie instan produksi PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk adalah pionir sekaligus market leader produk mie instan di Indonesia selama puluhan tahun. Mie instan keluaran perusahaan milik Sudono Salim ini pertama kali diluncurkan pada tahun 1970 dan langsung “meledak” di pasaran.

Pada tahun 1982, penjualan produk Indomie mengalami peningkatan signifikan karena Indofood terus meluncurkan berbagai varian rasa mie instan yang rasanya pas dengan selera masyarakat. Selain inovasi penciptaan berbagai varian rasa, Indomie makin dicintai karena harganya terjangkau.

Indofood pun sukses membuat brand image produk mie instan di Indonesia. Itu tampak pada penyebutan semua mie instan dengan kata Indomie. Persis seperti yang terjadi pada penyebutan semua merek air mineral kemasan dengan nama AQUA, apapun mereknya.

Keberhasilan Indomie masih bertahan hingga puluhan tahun, terbukti dengan ekspor produk mie instan ini ke luar negeri seperti Australia. Bisnis perusahaan mie itu pun kian menggurita sampai menduduki posisi market leader yang super dominan, sekitar 90%. Wow!.

Dalam kurun waktu itu, banyak perusahaan lain yang menciptakan produk mie instan untuk mengalahkan Indomie. Namun satu per satu produk itu tenggelam, bahkan ada beberapa merek yang kemudian diakuisisi Indofood.

Agar makin menyulitkan pesaing untuk menyamai harga produk mie instan, Indofood pun mempunyai pabrik tepung terigu bernama Bogasari. Inovasi ini konon membuat Indofood kian berjaya, menguasai market share dari hulu hingga hilir.

Tahun 2003, akhirnya “kegagahan” Indomie terpatahkan. Di tahun ini, Wings Food meluncurkan produk mie instan dengan nama Mie Sedaap. Oleh Indomie, kemunculan Mie Sedaap dipandang sebelah mata, karena belum pernah ada produk mie instan yang sanggung mengalahkan Indomie selama puluhan tahun.

Siapa sangka, meski baru diluncurkan tahun 2003, Mie Sedaap mampu menggerogoti market share Indomie hingga mencapai kemerosotan omzet 70%. Sebuah kenyataan pahit bagi Indofood yang lengah karena merasa sudah “mapan” tak tergoyahkan selama puluhan tahun.

Ada banyak faktor yang menyebabkan market share Indomie perlahan-lahan tergeser oleh Mie Sedaap. Salah satunya, karena Indomie tak disiplin menjaga posisinya sebagai market leader.

Sebagaimana yang tertulis di buku Marketing Management karangan Philip Kotler 13 Ed.Chapter 11:

’Market leader harus menghadapi tantangan dari pesaing kecuali, dominasinya dilindungi oleh hak paten (atau monopoli hukum). Hal ini untuk mempertahankan posisinya melawan penantang. Cara alternatif untuk meningkatkan penggunaan produk adalah: mencari pengguna baru, menemukan penggunaan baru untuk produk dan meningkatkan penggunaan oleh pelanggan yang sudah ada.

Sebagai market leader, hendaknya perusahaan tak berhenti berinovasi, agar posisinya semakin kukuh. Inovasi bisa dilakukan dengan memunculkan varian rasa mie instan yang baru, gencar beriklan di berbagai media,serta kreatif memunculkan strategi marketing.

Jika disiplin itu dilakukan, niscaya profit tak akan goyah, posisi market leader kian kukuh, meningkatkan brand loyality, serta membangun customer relationship agar brand imaging kian kuat. Dan, perusahaan Anda tetap nomor satu.



Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :
loading...

Related : Studi Kasus Indomie VS Mie Sedaap